Thursday, December 31, 2015

Lemak Tak Jenuh Yang Baik Untuk Tubuh

Makanan Bersahabat


Untuk hidup sehat, bukan hanya jadwal dan jumlah jenis makanan yang diperhatikan, tapi juga jenisnya. Berikut ini beberapa jenis makanan yang mengandung lemak tak jenuh yang baik untuk tubuh.


1. Minyak Zaitun 

 

minyak zaitun

 

Minyak zaitun memiliki hampir 12 gram lemak tak jenuh dan hanya 2 gram lemak jenuh. Karena itu, minyak zaitun bermanfaat untuk jantung dari kandungan kedua jenis asam lemaknya, yaitu Omega 3 dan Omega 6.


2. Alpokat 

 

Alpokat mengandung lemak tak jenuh yang bagus untuk tubuh

 

Buah ini terbukti mengandung lemak tak jenuh yang bagus untuk tubuh. Namun Anda juga disarankan untuk tidak mengkonsumsinya terlalu banyak.


3. Ikan Salmon 

manfaat ikan salmon

Tidak seperti beberapa jenis lainnya, salmon merupakan ikan yang bagus untuk dikonsumsi karena mengandung sekitar 2,5 gram lemak tak jenuh ganda per porsi.


4. Kacang Almon 

 




Kacang Almon

 

Anda yang biasanya suka ngemil bisa mengganti camilan Anda dengan jenis yang lebih sehat. Salah satunya adalah kacang almon. Almon merupakan sumber asam lemak tak jenuh tunggal dan vitamin E, yang sangat bagus untuk rambut, kuku, serta kulit.


5. Biji-bijian 

bijian-bijian mengandung lemak tak jenuh yang bagus untuk tubuh

 

Biji-bijian, seperti rami dan wijen, merupakan jenis bahan makanan yang bagus karena mengandung jenis lemak tak jenuh ganda. Untuk mendapatkan hasil maksimal, Anda bisa menikmatinya langsung atau diolah menjadi minyak untuk masak.


6. Minyak Nabati 

minyak nabati

Jenis minyak ini merupakan salah satu minyak yang paling kaya tak jenuh ganda. Minyak sofflower dapat berisi hingga 74 gram lemak tak jenuh ganda.

Monday, December 14, 2015

Pemanis Alami vs Pemanis Buatan

Tak sedikit orang yang menghindari gula atau pemanis alami lamaran tinggi kalori dan menyebabkan berat badan naik. Orang pun mulai beralih menggunkan pemanis buatan lantaran rendah kalori.  

Namun siapa sangka, di balik embel-embel lebih sehat itu, ternyata pemanis buatan juga menyimpan petaka, terutama bagi kaum wanita, yang selalu menjaga penampilan. Pemanis buatan ternyata menjadi penyebab naiknya berat badan. Hal itu terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan American Heart Association dan American Diabetes Association

Pemanis Alami vs Pemanis Buatan
Penelitian itu menyebutkan mengganti gula alami dengan pemanis bukan jaminan menjaga tubuh seseorang lebih langsing. Penggunaan pemanis buatan justru membuat upaya penurunan berat badan menjadi lebih sulit. Juga dapat mengakibatkan risiko penyakit tertentu. Pemanis buatan, seperti Splenda, Nutrasweet, dan Truvia, yang kerap digunakan untuk menurunkan berat badan sebenarnya justru menyebabkan mereka lebih berat dari sebelumnya, kata peneliti dari Stanford University di Palo Alto, Califorrnia, Christopher Gardner.

Hal senada disampaikan Erin Green dan Claire Murphy dari University of California, San Diego, dan San Diego State University. Pernanis buatan yang bebas gula dan rendah kalori, seperti sakarin, aspartam, siklamat, dan sucralose, justru meningkatkan hasrat makan berlebih dengan cara membingungkan kerja otak.

Mereka menguji 24 responden usia dewasa dengan pemindaian otak. Separuh responden secara teratur mengkonsumsi soda diet sekali sehari. Setengah lainnya jarang atau tidak pernah mengkonsumsi minuman itu. Peneliti memasukkan sedkit air pemanis sakarin atau gula (sukrosa) secara acak ke mulut responden saat pemindaian otak. 

Hasilnya, otak mereka yang minum soda diet tidak dapat mengatur asupan energi yang masuk, sehingga membuat mereka terus mengkonsumsi makanan hingga melampaui ambang kenyang. Inilah yang berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Temuan ini menguatkan kesimpulan dari penelitian sebelumnya pada hewan. Tikus yang diberi suplemen sakarin secara signifikan mengalami pertambahan berat badan dan lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya diberi glukosa. 

Hal berbeda disampaikan dokter gizi Samuel Oetoro. Menurut dia, tidak ada pemanis buatan yang membuat berat badan semakin naik. 'Pernanis buatan itu kan rendah kalori, jadi mana bisa menaikkan berat badan. Hal senada dikatakan ahli gizi masyarakat dari Institut Pertanian Bogor, Eddy Setyo Mudjajanto. Ia mengatakan penggunaan pemanis buatan sebenarnya untuk mengurangi energi yang dikonsumsi. 'Pemanis buatan sebenarnya untuk mengganti pemanis alami karena memang dibuat dengan pemanis yang sedikit. Tapi sebenarnya untuk orang yang diet, pemanis jenis apa pun tidak dianjurkan', kata-nya.

Thursday, December 3, 2015

Lemak Baik vs Lemak Jahat

Bagaimanapun kondisinya, kita membutuhkan lemak. Banyak ragam lemak, tapi tak semua punya nilai nutrisi yang sama. Sejumlah tipe lemak dihubungkan dengan sejumlah penyakit, seperti masalah jantung dan diabetes. Sedangkan yang lain, seperti yang terkandung dalam tumbuhan dan ikan, diketahui memiliki manfaat kesehatan. 

Mengetahui hal tersebut, tak mengherankan jika banyak orang yang mulai membatasi konsumsi daging. Mereka menganggap daging sebagai sumber lemak jenuh terbesar yang kurang baik untuk kesehatan. 

Lemak Baik vs Lemak Jahat


Namun sebuah penelitian membuktikan hal yang berbeda. Penelitian yang diterbitkan jurnal The Quarterly Review of Biology menyebutkan bukan seberapa sering seseorang mengkonsumsi lemak jenuh dan lemak takjenuh yang mengakibatkan timbulnya penyakit kronis, melainkan lantaran perbedaan interaksi lemak dengan mikroba di dalam perut. 

Menurut penelitian yang dilakukan tim dari University of New Mexico dan Northwestern University itu, sejumlah jenis lemak mendorong pertumbuhan mikroba berbahaya di sistem pencernaan. Ketika tubuh mengenali proses tumbuh mikroba ini, tubuh lalu mengaktifkan sistem daya tahan tubuh untuk menahannya. Hasilnya adalah inflamasi atau peradangan dalam skala kecil. Namun, jika terus berlangsung dalam jangka panjang, akhirnya akan menyebabkan penyakit kronis akibat peradangan, seperti masalah jantung dan pembuluh darah. 

Efek peradangan dari lemak sebagian sudah didokumentasikan. Namun belum banyak yang menghubungkan dengan perkembangbiakan yang cepat bakteri berbahaya dalam saluran pencernaan" kata pemimpin penelitian Joe Alcock dari University of New Mexico Department of Emergency Medicine and VA Medical Center

Uniknya, beberapa jenis lemak terutama lemak tak jenuh sebenarnya mengandung antimikroba yang sangat kuat. Lemak jenis ini akan bereaksi secara kimia dengan membran sel bakteri dan melemahkannya. 'Proses pertahanannya seperti asam lambung dan peptida anti mikrobial yang sangat ampuh membunuh sejumlah bakteri,"kata Alcock. 

Sementara itu, lemak jenuh umumnya tidak memiliki kemampuan antimikrobial serupa. Dari perbedaan ini, Alcock percaya inilah yang menjadi penyebab beberapa lemak bersifat menimbulkan peradangan dan sebagian lagi tidak. 'Kami rnenemukan hubungan yang sangat signifikan antara lemak yang memiliki sifat antimikroba dan yang memiliki sifat anti inflamasi," kata Alcock. "Lemak yang tidak memiliki sifat antimikroba cenderung pro-inflamasi. Hubungan ini sangatlah kuat. 

Menanggapi penelitian tersebut, ahli penyakit dalam Dr Sally Aman Nasution, SpPD, mengatakan kehadiran lemak jenuh, peradangan, dan penyakit pembuluh darah merupakan hal yang berbeda. Memang banyak yang mengatakan konsumsi banyak lemak akan menimbulkan plak pada pernbuluh darah, yang sewaktu -waktu bisa menyumbat. lalu terjadilah serangan jantung atau stroke. 

Sedangkan bila dilihat dari masalah mikroba tersebut, menurut dia, itu ranah yang berbeda, yakni termasuk masalah metabolisme, penyerapan, dan lain sebagainya. Sementara itu, tiap orang memiliki variasi sistem pencernaan yang berbeda. la menganalogikan, ada dua orang yang sama-sama makan sehat dengan lemak tak jenuh. Ternyata, saat diperiksa, satu orang kadar kolesterolnya tinggi, sedangkan yang lainnya normal, itu karena metabolismenya yang berbeda. 

Sebab, saat orang mengkonsumsi sesuatu, salah satu metabolisme yang berpengaruh adalah penyerapan di usus, yang dipengaruhi oleh mikroba itu, katanya. Jadi banyak sekali aspeknya. Jalurnya banyak sekali sampai terjadi kolesterol. Termasuk faktor enzim, penyerapan di usus, dan kadar antioksidan. Faktor mikroba ini merupakan hanya dari salah satu faktor. Karena itu, tetaplah menjaga pola makan sehat. Sebab, dengan makan sehat pun kita belum tentu akan memiliki metabolisme yang baik. Jadi makan sehat dan hidup sehat harus diterapkan dalam kehidupan kita.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More