Thursday, December 3, 2015

Lemak Baik vs Lemak Jahat

Bagaimanapun kondisinya, kita membutuhkan lemak. Banyak ragam lemak, tapi tak semua punya nilai nutrisi yang sama. Sejumlah tipe lemak dihubungkan dengan sejumlah penyakit, seperti masalah jantung dan diabetes. Sedangkan yang lain, seperti yang terkandung dalam tumbuhan dan ikan, diketahui memiliki manfaat kesehatan. 

Mengetahui hal tersebut, tak mengherankan jika banyak orang yang mulai membatasi konsumsi daging. Mereka menganggap daging sebagai sumber lemak jenuh terbesar yang kurang baik untuk kesehatan. 

Lemak Baik vs Lemak Jahat


Namun sebuah penelitian membuktikan hal yang berbeda. Penelitian yang diterbitkan jurnal The Quarterly Review of Biology menyebutkan bukan seberapa sering seseorang mengkonsumsi lemak jenuh dan lemak takjenuh yang mengakibatkan timbulnya penyakit kronis, melainkan lantaran perbedaan interaksi lemak dengan mikroba di dalam perut. 

Menurut penelitian yang dilakukan tim dari University of New Mexico dan Northwestern University itu, sejumlah jenis lemak mendorong pertumbuhan mikroba berbahaya di sistem pencernaan. Ketika tubuh mengenali proses tumbuh mikroba ini, tubuh lalu mengaktifkan sistem daya tahan tubuh untuk menahannya. Hasilnya adalah inflamasi atau peradangan dalam skala kecil. Namun, jika terus berlangsung dalam jangka panjang, akhirnya akan menyebabkan penyakit kronis akibat peradangan, seperti masalah jantung dan pembuluh darah. 

Efek peradangan dari lemak sebagian sudah didokumentasikan. Namun belum banyak yang menghubungkan dengan perkembangbiakan yang cepat bakteri berbahaya dalam saluran pencernaan" kata pemimpin penelitian Joe Alcock dari University of New Mexico Department of Emergency Medicine and VA Medical Center

Uniknya, beberapa jenis lemak terutama lemak tak jenuh sebenarnya mengandung antimikroba yang sangat kuat. Lemak jenis ini akan bereaksi secara kimia dengan membran sel bakteri dan melemahkannya. 'Proses pertahanannya seperti asam lambung dan peptida anti mikrobial yang sangat ampuh membunuh sejumlah bakteri,"kata Alcock. 

Sementara itu, lemak jenuh umumnya tidak memiliki kemampuan antimikrobial serupa. Dari perbedaan ini, Alcock percaya inilah yang menjadi penyebab beberapa lemak bersifat menimbulkan peradangan dan sebagian lagi tidak. 'Kami rnenemukan hubungan yang sangat signifikan antara lemak yang memiliki sifat antimikroba dan yang memiliki sifat anti inflamasi," kata Alcock. "Lemak yang tidak memiliki sifat antimikroba cenderung pro-inflamasi. Hubungan ini sangatlah kuat. 

Menanggapi penelitian tersebut, ahli penyakit dalam Dr Sally Aman Nasution, SpPD, mengatakan kehadiran lemak jenuh, peradangan, dan penyakit pembuluh darah merupakan hal yang berbeda. Memang banyak yang mengatakan konsumsi banyak lemak akan menimbulkan plak pada pernbuluh darah, yang sewaktu -waktu bisa menyumbat. lalu terjadilah serangan jantung atau stroke. 

Sedangkan bila dilihat dari masalah mikroba tersebut, menurut dia, itu ranah yang berbeda, yakni termasuk masalah metabolisme, penyerapan, dan lain sebagainya. Sementara itu, tiap orang memiliki variasi sistem pencernaan yang berbeda. la menganalogikan, ada dua orang yang sama-sama makan sehat dengan lemak tak jenuh. Ternyata, saat diperiksa, satu orang kadar kolesterolnya tinggi, sedangkan yang lainnya normal, itu karena metabolismenya yang berbeda. 

Sebab, saat orang mengkonsumsi sesuatu, salah satu metabolisme yang berpengaruh adalah penyerapan di usus, yang dipengaruhi oleh mikroba itu, katanya. Jadi banyak sekali aspeknya. Jalurnya banyak sekali sampai terjadi kolesterol. Termasuk faktor enzim, penyerapan di usus, dan kadar antioksidan. Faktor mikroba ini merupakan hanya dari salah satu faktor. Karena itu, tetaplah menjaga pola makan sehat. Sebab, dengan makan sehat pun kita belum tentu akan memiliki metabolisme yang baik. Jadi makan sehat dan hidup sehat harus diterapkan dalam kehidupan kita.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More